ContoH keuNggulan KOmeptitif dalam Penggunaan Sistem Informasi

Perubahan cepat di dunia bisnis mendorong perusahaan mengandalkan kekuatan informasi sebagai basis untuk berbisnis. Informasi yang didukung teknologi internet telah merevolusi wajah perekonomian dunia untuk berubah dari ekonomi lama (old economy) ke ekonomi baru (new economy). Ekonomi baru melengkapi kegiatan bisnis dunia nyata dengan kekuatan informasi. Untuk memanfaatkan informasi dengan optimal, dunia bisnis perlu menerapkan strategi pengelolaan informasi dan pengetahuan dengan optimal untuk memperbaiki kualitas keputusan, proses, dan produk ataupun jasa yang dihasilkan, serta hubungan yang harmonis dengan pelanggan.

Mengubah Kabar Buruk Menjadi Kabar Baik
Teknologi informasi telah menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan bisnis dunia, termasuk di Indonesia. Dengan mengoptimalkan manfaat dari informasi yang tepat, perusahaan dapat memangkas biaya yang besarnya sangat signifikan. Namun, pemanfaatan informasi memiliki dua sisi: jika perusahaan tidak bisa menggunakannya dengan tepat, maka informasi akan membawa pada kematian, sebaliknya jika perusahaan dapat memanfaatkannya dengan optimal, maka keuntunganlah yang akan didapat.
Sebagai contoh adalah PT Telkom dan PT Pos Indonesia. Revolusi informasi yang masuk bersama dengan teknologi Internet, pada awalnya terlihat seperti membawa lonceng kematian bagi dua perusahaan BUMN di Indonesia ini, karena Internet dianggap akan memakan pasar PT Telkom di industri komunikasi suara dan PT Pos Indonesia di komunikasi melalui pos. Tetapi, karena kedua perusahaan ini berhasil mengelola dan memanfaatkan informasi disertai inovasi di bidang teknologi komunikasi tersebut dengan baik, datangnya perubahan tidak mematikan bisnis kedua perusahaan ini. Mereka merangkul kekuatan informasi dan teknologi Internet tersebut dengan secara signifikan melakukan perubahan-perubahan fisik yang diperlukan dalam memperbaharui produk dan jasa yang mereka tawarkan.
PT Telkom memperkenalkan Telkomnet Instan sebagai jasa layanan internet bagi pengguna telepon tanpa repot (tanpa harus mendaftar dengan prosedur administrasi yang rumit sebagai pelanggan sebuah internet provider), bisa langsung diakses seperti menelepon biasa. Jasa lainnya adalah penyediaan jaringan komunikasi broadband untuk kawasan tertentu yang bisa digunakan untuk TV kabel atau jaringan internet dengan kabel (bukan dial up). Dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi ini, PT Telkom juga menawarkan jasa komunikasi bergerak dengan telepon genggam yang menawarkan pulsa jauh lebih murah dari perusahaan sejenis di industri komunikasi bergerak. Sedangkan PT Pos Indonesia menawarkan produk-produk baru seperti wasantara-net (jasa layanan internet provider), pengiriman kartu pos digital, serta pengiriman surat dan barang yang ditunjang dengan jaringan elektronik yang telah dibangun oleh PT Pos untuk menyosong masa depan menjadi perusahaan kelas dunia.

Mengubah Informasi Pasif Menjadi Informasi Aktif
Informasi, ditunjang dengan teknologi komunikasi yang berkembang cepat hanyalah merupakan alat. Alat ini dikendalikan oleh manusia. Dengan demikian, pelaku bisnis perlu mengelola informasi yang dapat diaksesnya sedemikian rupa agar dapat dimanfaatkan bersama oleh orang-orang yang tepat untuk mendapatkan hasil yang optimal. Di sini, peran knowledge management (KM) menjadi penting. Dengan KM yang tepat, yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan, informasi penting dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh pimpinan di kantor pusat, tetapi juga oleh mereka yang berada di cabang-cabang dan perwakilan perusahaan di seluruh dunia pada waktu yang bersamaan. Jadi, knowledge management dapat mengubah informasi pasif yang hanya tersimpan dalam kepala beberapa orang, atau dalam bentuk cetak, menjadi informasi aktif, yaitu informasi yang di-share sehingga dapat dimanfaatkan secara aktif untuk mengambil keputusan, melakukan inovasi dalam produk dan proses, mendukung pembelajaran yang berkelanjutan, dan meningkatkan kualitas dari SDM perusahaan.
Sebagai contoh: Perusahaan Nabisco, memanfaatkan information sharing untuk sarana penyempurnaan kualitas produk dan layanan kepada pelanggan. Melalui Journey, sistem yang khusus diciptakan untuk mengakomodasi kegiatan pengelolaan informasi (knowledge management), seorang manager produk di Malaysia yang ingin mempromosikan peluncuran makanan ringan baru, bisa mengakses Journey untuk melihat informasi tentang kegiatan serupa (promosi peluncuran produk baru) yang pernah ataupun sedang dilakukan di negara lain. Melalui sistem ini, manajer tersebut juga bisa melontarkan pertanyaan di forum diskusi on-line, untuk mendapatkan masukan (ide, usulan strategi atau solusi) dari rekan-rekan sesama manajer produk atau direktur pemasaran di berbagai tempat lain.
Upaya pengelolaan informasi juga dilakukan oleh Yamanauchi, perusahaan farmasi terbesar ketiga di Jepang untuk mempermudah proses pengambilan keputusan dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di perusahaan tersebut. Masalah-masalah yang terjadi bisa dengan lebih cepat ditangani melalui forum diskusi on-line antarpimpinan di berbagai divisi dan berbagai daerah. Keputusan yang menyangkut penerapan berbagai terobosan baru juga bisa segera disosialisasikan untuk mendapat alternatif tindakan yang terbaik guna merealisasikan terobosan-terobosan tersebut. Rapat-rapat penting yang melibatkan personel puncak di berbagai daerah menjadi lebih mudah dan efektif dilakukan. Informasi yang akan didiskusikan di e-mail terlebih dahulu untuk dipelajari, sehingga pada saat meeting dilaksanakan (tanpa orang-orang tersebut harus secara fisik hadir di satu tempat), diskusi bisa lebih difokuskan pada analisis alternatif strategi yang disampaikan. Menurut Bill Gates (Business @ the Speed of Thought), di perusahaan otomotif, Ford, Jacques Nasser, President Direktur bidang operasional, memanfaatkan kekuatan informasi untuk membina hubungan dengan karyawan. Setiap hari Jumat, Nasser mengirim email ke 89.000 karyawan di seluruh dunia untuk memberikan ide-ide, informasi tentang perkembangan terkini di industri otomotif, maupun di perusahaan. Ia juga membaca masukan dari karyawan, distributor dan pelanggan untuk perbaikan produk dan kualitas layanan.

Mengubah Pelanggan Musiman Menjadi Pelanggan Loyal
Agar pelanggan menjadi loyal, perusahaan perlu mengenal dengan baik, dan perlu dikenal dengan baik juga oleh target pasar mereka. Caranya adalah dengan memanfaatkan informasi yang tepat untuk membina hubungan dua arah yang harmonis dengan target pasar. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah mendekatkan diri dengan pelanggan dengan memberi layanan secara individu kepada mereka. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan teknologi internet untuk mengunjungi pelanggan satu per satu di tempat mereka masing-masing. Melalui teknologi ini, perusahaan bisa memperkenalkan berbagai produk, layanan baru yang ditawarkan perusahaan bagi pelangan, serta berbagai solusi yang diberikan perusahaan untuk memecahkan berbagai masalah yang dihadapi pelanggan.
Teknologi internet dengan knowledge management-nya pun bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan masukan berharga (melalui keluhan, usulan, dan pertanyaan yang disampaikan pelanggan) untuk memperbaiki kualitas produk dan layanan bagi pelanggan, serta menciptakan produk dan layanan baru sesuai dengan perubahan selera dan kebutuhan pelanggan yang bisa diakses dari setiap transaksi yang tercatat. Dengan demikian, baik pelanggan maupun perusahaan bisa saling mengenal dengan baik karakter masing-masing. Karena sudah saling kenal, dengan hubungan yang baik, maka loyalitas pun akan lebih mudah tumbuh.
Dell Computers, perusahaan yang memproduksi komputer dengan mengandalkan keterlibatan pelanggan dalam menentukan sendiri fitur dari komputer yang akan dibeli (bukan fitur yang sudah distandarkan dari pabrik), serta Amazon.com, yang juga mengandalkan keterlibatan pelanggan dengan konsep ”swalayan” (pelanggan bisa memilih sendiri buku yang akan dibeli, dengan harga yang paling sesuai dengan kantong masing-masing), merupakan contoh yang tepat untuk menggambarkan pemanfaatkan kekuatan informasi yang ditunjang dengan teknologi yang tepat untuk memenangkan persaingan. Kedua perusahaan ini tampil sebagai pemenang karena mereka mampu menggunakan informasi untuk memenangkan pelanggan dengan cara yang mengubah paradigmanya dari persaingan dalam produk menjadi persaingan dalam pemanfaatan informasi yang tepat untuk memenangkan persaingan di pasar.
Berbagai bank di Indonesia juga sudah mulai memanfaatkan kekuatan informasi ini, misalnya melalui internet banking, di mana pelanggan diberi kepercayaan dan kemudahan untuk mendapatkan akses terhadap berbagai informasi yang mereka perlukan serta melakukan sendiri transaksi perbankan mereka dengan memanfaatkan internet, misalnya: transfer ke rekening lain, pembayaran berbagai tagihan. Transaksi yang dilakukan pelanggan ini akan tercatat dalam sistem dan informasi yang dihasilkan (antara lain: berapa banyak yang mengakses fasilitas ini, transaksi mana yang paling banyak diminati, masalah apa yang sering menjadi keluhan pelanggan) akan tercatat sehingga mudah diakses oleh para pengambil keputusan untuk meningkatkan kualitas keputusan mereka, serta mengantisipasi perubahan minat dan kebutuhan pelanggan.
Sudah siapkah Anda memanfaatkan kekuatan informasi untuk melaju di era yang penuh perubahan dan persaingan yang ketat?

sumber http://www.detik.com

ManFaat KEunggulan kompetitif…….

Suatu ketika seseorang pernah bertanya pada Warren Buffet, CEO-nya Berkshire Hathaway dan salah seorang investor yang paling disegani di dunia, hal terpenting apakah yang ia cari ketika sedang mengevaluasi sebuah perusahaan untuk diinvestasikan. Tanpa ragu-ragu, Buffet menjawab, ”Sustainable competitive advantage.”

Mengapa investor sekaliber Warren Buffet mencari sustainable competitive advantage atau keunggulan kompetitif yang berkelanjutan? Apakah keunggulan kompetitif yang berkelanjutan itu dan apa hebatnya?

Keunggulan kompetitif yang berkelanjutan adalah keunggulan yang tidak mudah ditiru, yang membuat suatu perusahaan dapat merebut dan mempertahankan posisinya sebagai pimpinan pasar. Karena sifatnya yang tidak mudah ditiru, keunggulan bersaing yang berkelanjutan dapat mendukung kesuksesan suatu perusahaan untuk jangka waktu yang lama.

Di masa lalu hal-hal seperti teknologi produksi yang superior atau merek yang kuat dipandang sebagai keunggulan yang tidak mudah untuk ditiru oleh para pesaing. Tetapi, pernahkan terpikir bahwa pada jaman sekarang persaingan price (harga), promotion (promosi), product (produk), dan proses produksinya sudah menjadi hal yang lumrah?

Keunggulan operasional yang terlihat pada harga yang murah atau kualitas barang yang bagus pada masa sekarang sudah tidak lagi cukup untuk memenangkan persaingan bisnis. Karena, pesaing kita tentunya akan berusaha menyusul dengan harga yang lebih murah atau produk yang lebih baik. Apalagi dengan adanya AFTA Indonesia akan kebanjiran produk-produk murah dari Cina dan India.

Branding advantage (keunggulan merek) pun kini makin sulit untuk tercapai karena semua media promosi telah menjadi ajang perang memperebutkan customer mindshare. Dengan begitu banyaknya merek yang berseliweran di benak para pembeli, perang promosi pun telah menjadi perang yang teramat mahal.

Untuk menjadi top brand, sekarang perusahaan-perusahaan mau tidak mau mesti mengeluarkan biaya puluhan bahkan ratusan miliar rupiah per tahun. Biaya investasi terlalu tinggi untuk kebanyakan perusahaan Indonesia. Sedangkan promosi yang lebih taktikal seperti sales promo atau diskon hanya akan memberikan keunggulan sementara yang tidak akan bertahan lama.

Di tengah persaingan bisnis yang semakin menghangat, banyak pemasar yang melupakan pentingnya place strategy, atau yang juga kita kenal dengan strategi distribusi, dalam mencapai keunggulan bisnis. Dalam buku The Channel Advantage Larry Friedman menulis bahwa dengan makin pendeknya beda waktu antara suatu produk inovatif keluar dan tiruannya menyusul, strategi produk tidak lagi dapat diandalkan. Apalagi, seperti kita ketahui semua, di Indonesia perlindungan hak cipta masih sangat kurang pelaksanaannya.

Pada keadaan seperti ini Larry Friedman menyatakan bahwa ”Its not what you sell, its how you sell it” atau ”Bukan apa yang kita jual, tapi bagaimana kita menjualnya.” Inilah inti dari strategi distribusi.

Keunggulan bisnis dapat tercapai dengan strategi distribusi yang inovatif dan efektif. Saya syaratkan strategi ini mesti inovatif karena bila tidak, strategi tadi hanyalah tiruan strategi pesaing yang tidak akan memberikan keunggulan. Sedangkan strategi ini mesti efektif karena bila tidak, ia akan menjadi kendala dan bukan keunggulan.

Di Indonesia sendiri, Kimia Farma merupakan contoh perusahaan yang tidak melupakan strategi distribusinya. Di antara perusahaan-perusahaan farmasi yang berlomba-lomba memperebutkan shelf-share atau pangsa display di apotik, toko obat, dan toko kelontong melalui insentif, promosi saluran pemasaran, iklan below the line dan above the line, Kimia Farma berani beda.

Sejak tahun 2001 Kimia Farma sukses mengembangkan saluran pemasaran yang langsung menghubungkannya ke konsumen, yaitu Apotik Kimia Farma. Dengan modal apotik miliknya itu, dalam perebutan mind-share, heart-share, dan market-share pengguna obat, Kimia Farma selangkah lebih maju dari kompetitornya.

Kalau perusahaan farmasi lain hanya mengandalkan kualitas produk dan efisiensi produksi, maka Kimia Farma juga mengembangkan customer intimacy strategy (strategi kedekatan dengan pembeli). Hebat bukan?

Apalagi kalau kita mengingat bahwa strategi ”apotik sebagai keunggulan kompetitif” ini sifatnya berkelanjutan karena tidak mudah ditiru dan bukan merupakan beban usaha karena menghasilkan keuntungan operasional lumayan. Kita lihat apakah langkah berani Kimia Farma ini akan diikuti perusahaan lain.

sumber http://www.republika.co.id